Perjalanan pun berujung pada pagi
Saat subuh yang patuh pada waktu
dan Orang - orang kusyuk berutinitas
Sampailah kami pada tanah asing
Yang seakan haus untuk ditelanjangi


Menikmati deburan teluk hijau
Memang sudah masuk dalam rencana, sampai di Banyuwangi subuh. Setelah melaksanakan ibadah pagi kami sudah ditunggu Mas Andri di kantin depan stasiun, lalu lanjut ambil motor dirumah mas andri selengkapnya baca disini yuk Enjoy Banyuwangi, with Enjoynesia. Setelah cek kelengkapan motor, nungguin jam check in kami mampir di pantai Cacalan buat ngeliat sunrise. Asli pantai nya sepi dan semerbak orange muncul dibalik mendung. Ada juga ayunan untuk menikmati pantai yang tentunya rebutan sama beberapa anak kecil hihihi.

Puas dengan sunrise yang matahari nya sekarang kian tinggi, kami memutuskan untuk early check in di shintana homestay. Pelayanan dan kemudahan check in membuat kita betah. Setelah mandi dan beres - beres kami pun memutuskan untuk melakukan perjalanan mencari surga tersembunyi bernama greenbay hehehe. Lokasi yang cukup jauh dari banyuwangi kota sekitar 2 sampai 3 jam perjalanan. Green bay atau teluk hijau sendiri lokasi nya terdapat pada Taman Nasional Meru Betiri tepatnya Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggrahan Banyuwangi. Akses menuju kesana didominasi jalan makadam (jalan batu) dan juga beberapa perkebunan tebu, kopi yang mendominasi disamping gunung dan sungai.
Berada di pinggir Pantai Batu

Pantai Batu dari sisi lain


Info yang kita dapat, menuju ke green bay bisa diakses oleh 2 cara yaitu via darat dan juga laut. Via laut disebut jalur termudah karena tidak perlu berjalan kaki dengan akses yang susah, cukup menaiki perahu dari pelabuhan Rajegwesi tentu dengan timing waktu tidak lebih dari jam 12 siang dikarenakan ombak yang besar tidak memungkinkan perahu untuk melaut ke arah sana. Nyaris berkejaran dengan waktu saat kami mengendarai motor dengan berbekal gps dan warga.

Setelah masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri, kami mendaftarkan nama anggota pada pos satpam sekaligus membayar retribusi. Menurut informasi penjaga hutan, dari gerbang masih diperlukan kurang lebih 30 menit untuk bisa mencapai perjalanan awal ke green bay. Dasarnya rencana awal naik perahu, dengan dresscode yang salah total kami dengan PD nya masih berharap perahu hihihi.
Ciaamiiik... tetep kece walau capek badaiii jalankakinya


Setelah sampai Pelabuhan Rajegwesi, ternyata sesuai dugaan bahwa perahu sudah tidah bisa berlayar, daripada sia-sia kami pun memutuskan jalur darat dengan perlengkapan seada adanya dan hanya bondo nekat. Dari pelabuhan masih dibutuhkan sekitar 15 menit naik dengan jalan rusak dan cenderung menanjak. Setelah tiba di parkir motor dan dengan tekad suam suam kuku kami naik untuk melewati halang rintang bebatuan dan jalan menanjak beralaskan tali sebagai pegangan dan baju seadanya. 



Ditemani kawanan monyet serta jurang yang langsung ke laut, pemandangan indah sekaligus ngeri kami lalui, jangan bayangkan track nya ya wkwk terjal naudzubillah.Setelah jalan agak datar kami sampai pada check point pertama bernama Pantai Batu. Duduk di pinggir pantai menikmati nafas satu dua membayangkan betapa berani nya dua wanita ini sampai ke titik ini menikmati pemandangan yang luar biasa indah. Disusul dua tiga pelancong lain dan info yang didapat tidak jauh lagi kami pun melanjutkan perjalanan. Susur sungai dan pantai sampailah kami pada titik koordinat greenbay. Senengnya kaya nemu cowo ganteng ditengah gurun sahara gitu.

Asli pantai nya cantik dengan pasir putih dan gradasi warna hijau air laut nyaris membutakan. Jangan lupa jajaran batu menjulang dengan apik seperti di tata dengan wangi laut khas. Beberapa Pelancong menggunakan perahu untuk kembali ke pelabuhan tentu dengan ombak yang nyaris membuat perahu terbalik. Setelah puas bermain air melepas lelahlah kita dipinggir pantai dengan angin sepoi hingga kami berdua tertidur pulas karena kecapekan.

sedikit video rute perjalanan ke arah Teluk Hijau

Lelah namun hati senang
Air terjun pinggir laut nya mengalir sedikit kering mungkin sedang musim panas. Setelah puas kami pun bergegas kembali mengingat tanjakan terjal sudah menanti wkwkwk. Sampai di lokasi dekat parkir motor kami dengan kalap menenggak air botol kemasan dingin dan sebungkus pentol dengan rakus, yang menutup perjalanan manis kami di green bay.

Terima Kasih sudah berkunjung.
Salam SiRanselPena

Ps : jangan lupa buanglah sampah pada tempatnya agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati keindahan alam.

Kami masih ingat suara itu
Damai dan dingin menyentuh
Dan jangan lupa bisikkan alam
Merengkuh kami dalam kebersamaan
Untuk segera mengecapmu


Setelah sukses dengan bangun sedikit lebih pagi, kami pun menyingkap dinginnya Banyuwangi dalam deru motor. Menggigil, tapi kita dapat pematang sawah yang semalam dihujani embun serta suara burung ramai membicarakan indahnya pagi ini, mungkin. Setelah parkir motor, kami menuruni anak tangga yang sedikit basah. Rimbun dengan suara gemercik air dari kejauhan serta suara serangga yang jarang kami temukan. Apa untung dari datang pagi kalau bukan gratis biaya retribusi hehehe lumayan hemat budget gengs. 

Debit air yang tidak terlalu deras dan tergolong beningg dengan kolam penampung air yang mengundang untuk berenang siap - siap dengan segar nya air yaa dijamin langsung melek. Untuk pengunjung nya waktu itu hanya kita ber3 jadi seperti kolam pribadi. Setelah jepret sana sini kami pun ganti kostum, tersedia kurang lebih 5 toilet bersih (pastinya lupa ada berapa hhehe) dengan air sumber. Setelah ganti, kami masih mengulur waktu dengan nge-teh dan makan pisang goreng hangat di warung dekat ruang ganti
Suasana disini bikin pengen balik terus
Ikan-ikan kecil mungil mengelilingi betis jumbo serasa dipijit2 lho
Setelah mengisi perut, saat yang dinanti pun tiba, apalagi kalo bukan nyemplung. Dimulai dengan nyemplungin kaki di air nan bening untuk tes ombak wkwk. Saat itu ikan - ikan kecil menggigit ujung kaki, lucu seperti terapi ikan yang dulu sempat hits itu. Dan byurr dingin air seakan mengecup dari ujung kaki sampai ujung rambut, sensasi luar biasa karena notabene air di Surabaya tidak sesegar air dari sumbernya.

Kurang lebih seukuran pinggang kedalam air nya kalau dilihat dari kacamata orang pendek yaa wkwk, saking bening nya sampai kita bisa ngeliat dasar kolamnya. Bagian dasar kolam banyak terdapat batu jadi hati-hati ya gengs ketusuk. Setelah kira - kira setengah jam kami Chill di air terjun pribadi wkwk tetiba gerombolan manusia entah dari mana asalnya merusak kesyahduan kita ber3 wahahaha dan kami pun berbagi kolam bersamaa. Lalu muncul 3 orang bule 2 diantaranya cowo hots gengs dan mba bule nya nyemplung berbikini sontak ngebuat para lelaki kalang kabut, mbak-mbak ga dingin apa ya wkwkwk.
saat 2 orang ini bertatapan melihat daki2 kaki yang dihinggapi ikan2 kecil


Sebenernya disini ada 2 air terjun, tetapi satu air terjun nya tidak bisa untuk kita main air, karena banyak nya batu batu besar di depan air terjunnya dan juga batu nya licin gengs, jadi lebih baik kita menikmatinya hanya dengan memandang aja, karena cinta itu kan dari mata lalu turun ke hati hihihi

Setelah dirasa cukup menggigil kami pun bergegas ganti dan ketemu mas mbak bule lagi di ruang ganti wakakak laper mata. Oh ya gengs, untuk penitipan barang disini belum tersedia, namun jangan sedih karena kita bisa titip di ibu penjual pisang goreng tapi tentu sebelumnya kalian beli dulu yaaa.
kungkum (berendam) di pinggir air terjun

Kami pun kembali duduk di warung dan menikmati pisang goreng dan segelas teh hangat sembari mempersiapkan untuk destinasi selanjutnya. Yuk gengs kalau ke Banyuwangi jangan lupa mampir ke air terjun ini ya, dijamin ga rugii. Sampai ketemu di cerita berikutnyaa, Salam SiRanselPena


PETA LOKASI :
Air Terjun Jagir, Banyuwangi

riwayatmu kini
bagai usang yang telah lapuk
terkikis jaman 
terangkai isyarat pada skema kata 
agar tak percuma menyusuri sejarah pada setiap halaman
Yahh.... cerita dan kisah mu tak boleh usang
walau jaman yang menelan
hingga kami menanti para pejuang
bukan hanya dalam cerita tapi menyuarakan berjuang


Area Hotel Ganefo dengan interior yang masih sesuai dengan aslinya
Sebenarnya Sudah lama kami ingin mencari Hotel Ganefo  , mengapa??? karena rasa penasaran kami pada salah satu Hotel Tua di Surabaya,  yang konon katanya Hotel Ganefo ini sudah berusia -/+ 100 tahun selain itu dari foto yang kami sempat baca di Google, rasa merinding sih karena dilihat dari foto yang ada bangunan Belanda ini bener-bener masih alami, namun apa sungguh masih adakah bangunan ini?, karena penasaran yang  ada kami mencoba menyusuri.

Jejak Penyusuran  kami mencoba mencari letak Hotel Ganefo tak lain ternyata hotel ini dekat dengan Klenteng Boen Bio yang daerah tersebut juga lebih di kenal dengan "Kampung Kungfu", sesampai di hotel kami bertemu dengan bapak-bapak yang sepertinya adalah generasi dari penerus hotel tersebut, tak banyak yang dapat kami ceritakan karena bapak tersebut terburu-buru ke gereja, hanya saja bapak tersebut sempat bicara apabila hotel ini sudah berdiri 100 tahun lebih, namun 2 atau 3 bulan kedepan hotel ini akan tutup serta dialih fungsikan namun belum jelas untuk apa (2 atau 3 bulan mulai dari postingan tulisan kami yah guys)
Tampak Depan Hotel Ganefo




Deretan pesawat Telephone jaman dulu kala masih tersimpan rapi

Meja Resepsionis yang khas dengan Garuda Pancasila serta 2 Foto Presiden Indonesia

Area Ruang Tunggu Tamu ada 2 bagian, yang pertama bagian depan dan yang satu adalah bagian di foto ini dekat dengan meja resepsionis

salah satu spot area tamu

Beranda untuk tamu yang menginap selain  beranda tengah ini setiap kamar yang berada di luar area memiliki area beranda tamu sendiri

tampak samping area beranda tamu yang menginap dengan interior dan bangunan yang masih otentik

Beberapa artikel di Google sempat kami baca  mengenai Hotel Ganefo ini salah satunya menginformasikan bahawa di jalan kapasan ada dua hotel yaitu Hotel Ganefo dan Hotel Hollywood, serta beberapa losmen. Hotel Hai Yong Zhou lokasinya di sebelah sekolah Chiao Nan. Hotel ini didirikan oleh orang - orang Hakka. Mungkin dulu disekitar Jl.Bakmi penghuninnya banyak orang Hakka atau berasal dari Provinsi Guangdong. Hotel-hotel ini setiap hari ramai dikunjungi pedagang Tionghoa dan tamu - tamu dengan keperluan lainnya. Banyaknya hotel di daerah tersebut membuktikan ramainya perdagangan di pecinan Surabaya pada era 1950-an (Sumber : Blog Hurek )

Sedikit sejarah mengenai hotel Ganefo ini adalah peninggalan eks Kapten yang konon keturunan Tionghoa yang mendapatkan tugas dari Belanda untuk mengawasi masyarakat setempat. tepatnya bangunan berdiri kami hanya dapat informasi dari generasi saat ini yang kami temu apabila gedung dan bangunan ini suah berusia +/- 100 tahun. oh ya guys siapa tau dari kalian masih ada kesempatan berkunjung dan melihat betapa indahnya bangunan sejarah ini yang masih berdiri kokoh, dengan ciri khas bangunan belanda yang memiliki area yang luas serta atap yang tinggi untuk kekhasan interior belanda lainnya, karena kalian pasti sangat takjub dengan bangunan ini yang memiliki area bangunan, kamar yang lumayan banyak dan tanah yang luas.
Hingga saat ini Hotel Ganefo masih beroperasi dengan memiliki 2 tarif kamar :

1. Kamar Biasa 
 Tidak ada AC,TV atau Kipas non WIFI dengan harga 100.000/hari selain itu kamar mandi terpisah dari kamar sehingga untuk kamar mandi dengan tarif kamar ini terletak di luar area kamar.



suasana yang sangat vintage dan ranjang tempat istirahat pun masih otentik semua

bahkan pintu pun masih menggunakan gembok 

deretan beberapa kamar yang terpisah dari bangunan utama

Jalan ke koridor lain menuju area kamar dari gedung utama


salah satu kamar mandi luar yang disediakan

2. Kamar AC,TV, WIFI 
dengan harga 180.000/hari bentuk serta luas kamar pun beda selain itu kamar mandi tersedia di dalam , berbeda dengan kamar dengan tarif 100.000/hari

Kamar yang memiliki area serta fasilitas yang berbeda (Soure : JOLA Jalan)

area depan beberapa kamar dengan ciri khas pintu double selain pintu kayu terdapat pintu yang disekat oleh kawat yang dulunya  terkenal kala jaman tsb dan mungkin hingga sekarang masih ada beberapa rumah yang menggunakan pintu tersebut

Baca Juga : Sejarah Hotel Ganefo
Memasuki area hotel Ganefo, kami serasa berada di zaman Belanda kala itu, setiap lorong atau koridor yang kami lewati serasa menyimpan banyak cerita dan berbicara apabila dulu  gedung ini banyak memiliki aktfitas dengan area lahan yang cukup luas ini.
Area Gedung tampak belakang


Area Samping gedung





Pintu utama menuju Hotel



Petunjuk di jalan memasuki area Hotel Ganefo
kursi tamu jaman dahulu yang saat ini sudah susah ditemukan mungkin masih ada beberapa rumah dengan gaya belanda yang masih memiliki area kursi tamu seperti ini hehehhehe, salah satunya rumah peninggalan Alm.Eyang saya.
Dalam cerita kunjungan kami mencoba mengumpulkan beberapa sejarah yang dapat memberikan informasi kepada kita semua apabila Kota Surabaya masih memiliki bangunan peninggalan dengan usia yang cukup lama, setidaknya cerita kami dapat mengenang Hotel Ganefo  sebelum penutupan operasional Hotel ini, walau Hotel ini terkikis karena usia kami berharap hotel ini hanya berhenti operasi namun gedung masih dapat dialih fungsikan untuk perihal kebudayaan atau sejarah mengenang perjuangan sejarah kota dan negara kita. Seperti yang di paparkan Bung karno 
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya."-Ir Soekarno-


Terima Kasih sudah berkunjung.
Salam SiRanselPena

Ps : jangan lupa buanglah sampah pada tempatnya agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati keindahan alam.

    karena cinta tak ada kata kadaluarsa
    usia boleh usang
    tak berarti semangat hilang
    seperti tak ada yang mau kalah
    senyum lelah tak terasa
    mungkin lelah tapi tak terasa
    karena tawa

    Salam hangat
    dalam kecupan pekat
    serasa kembali pada peraduan Ayah dan Ibu



    Kunjungan ke Banyuwangi wajib mencicipi kuliner khasnya yaitu rujak soto. Bagi kaum awam seperti kami, membayangkan rujak soto seperti sedikit gimana gitu. Bayangin aja saus kacang petis yg coklat pekat disiramkan dengan kuah soto iku lo yo opo rasa'e?? ( Bagaimana ya cita rasanya??) jenenge rujak ono kangkung,lontong,timun, lan lawuh liyane  bumbu rujak diguyang kuah soto?? (namanya rujak ada kangkung,lontong,timun,dkk dengan bumbu rujak disiram kuah soto) Gusti Allah hal pertama pasti begidik ngeri bayangi rasanya wkwk dasar amatir. Ada beberapa pilihan rujak soto yang kita sambangi, tapi banyakan tutup. Ada rasa lega tidak dengan sang tour guide yang tanpa lengah mencari celah rujak soto enak. Ketemulah di rujak soto daerah kutai no 1A yang dikenal dengan Rujak Soto Taman Baru atau kalau di Google Maps Kedai Rujak Soto Khodiri, warung nya berada di pekarangan rumah asri, ditemani nyanyian dahan pohon mangga gemersik bikin betah.

    Gubung Rujak Soto yang mengangkat tema lesehan dinding bambu ini dari kejauhan sudah terasa suasana yang dapat kita rasakan.Penjual nya sepasang Bapak Ibu yang ramah selalu senyum, setelah memesan kami pun duduk di bale sambil ngobrol santai. Datang si Bapak yang bertanya dari mana dan bercerita dari lor sampai kidul dan sesekali tertawa renyah. Jika kalian mampir pastikan tidak dalam kondisi perut amat lapar ya, disamping ramai ngulek rujak nya sendiri butuh waktu extra lah gimana ngga ngulek nya masih pakai cobek dan ibu nya sudah terbilang tidak muda lagi.

    Lesehan yang bikin adem ayemmm
    Semua bayangan tentang kengerian pupus, setelah semangkuk rujak soto hangat tersaji. Bau wangi tercium menggugah selera, tidak sepekat itu kok gengs. Bau soto nya beneran menggugah selera apalagi kalau dicampur dengan rujaknya. Nyesel deh ngga nyobain. Daging dari soto nya pun royal alias ngga pelit. Semangkuk rujak soto hanya dibandrol dengan harga standart saja gengs. Murah tapi ngga murahan (upss.. lupa nih nominal tepatnya dijamin nagih deeh)
    Sueerr ternyataa rasanya ga ngeriii malah bikin nagiihh


    Bapak penjual nya pun mengajak kami ngobrol tentang rahasia dapur rujak sotonya. "Warisan leluhur" timpalnya kemudian. Waktu berlalu dengan cepat kala itu. Kalau bukan karna jadwal kereta kamipun enggan beranjak dari bale dan berpisah dengan bapak dan ibu, momen yang kami abadikan pun terasa masih kurang hiksss. Gubug Rujak Soto ini seperti rumah sendiri dan olahan  masakannya khas seperti nenek kami selain itu suasana dan cita rasa di tempat ini sungguh tak akan pernah terlupakan.

    Sebelum kami pergi, kami pun mengajak bapak dan ibu untuk foto bersama sebagai kenang - kenangan, sebelum pose Ibu pun berkata "sek nduk, tak macak sek sing ayu tak dandan" (Sebentar mbak saya dandan dulu biar cantik)" sontak pun kami tertawa semua melihat ibu yang panik karena pengen eksis dengan dandan yang cantik, Bapak dan Ibu pun dengan riang nya berpose dengan kami, dan berpesan agar menyampaikan rujak sotonya kepada seluruh teman, "Biar rame yang datang, semua nya menikmati". Dan bapak pun menyampaikan untuk selalu berkunjung setiap ke Banyuwangi. Pengalaman yang tak terlupakan dari dapur ibu dan dari tawa sang bapak, serasa berada di rumah sendiri.

    Kami bersama pemilik Gubug Rujak Soto Taman Baru, We Miss U So pak bukk

    Terima Kasih Bapak IBu Gubug Rujak Soto Taman Baru, kami selalu merindukan canda tawa di Gubug Rujak Soto.yuk teman-teman cobain yah di Gubug Rujak Soto Taman Baru dijamin nagih dari rasa hingga tawa yang ada.

    Salam,
    SiRanselpena


    Lokasi :
    Gubug Rujak Soto Taman Baru
     ☎ : 0812-4996-0678






    Kokohnya Candi Gunung Gangsir
    ia berkata pada waktu yang terus berputar
    mengitari ruang dan gerak yang melaju pada poros
    ia berjalan dengan lantang dan tersenyum seolah waktu lalu menyapanya
    dengan temaram malam berjalan lalu terik matahari mulai menyapa
    ia bergumam seakan dunia lalu menarik nya 
    menambatkan hati seraya pada kata yang berbisik
    mencerminka rupa pada kata yang terangkai.
    Singkat cerita liburan kali ini kami (seperti biasa ada  sijambrong dan bang Angger) sepakat untuk menyusuri beberapa candi di dekat Surabaya atau Sidoarjo, salah satu tujuan kami Candi Gunung Gangsir, nama candi yang cukup unik menurut. Perjalanan menuju Candi ini menurut kami lumayan sulit bagi kami yang tak tau jalan dan arah pulang namun berkat Maps dari mbah Google dan  GPS (Gunakan Penduduk Setempat), akhirnya kami sampai pada tempat yang kami tuju, yakni Candi Gunung Gangsir. Candi yang terletak di tengah-tengah pemukiman warga, tak kalah eksotis dan keindahannya dengan candi-candi lainnya, bagi kami semua cagar budaya memiliki keindahan serta ciri khas tersendiri untuk di nikmati, dipelajari serta di renungkan.

    Pintu Masuk Candi Gunung Gangsir yang tertutup
    Saat kami sudah sampai, kami sedikit tercengang, dan salah satu dari kami nyeletuk " wah, iki uwis tutup rek, moto-moto tekan pager kene ra popo yo " ( read : wah ini sudah tutup, foto-foto dari sini ga papa ya), nah saat kami muter-muter dan mau menyamankan gaya pengambilan foto, tiba-tiba abang tukang bakso bilang " mas mbak lawang'e gak nang kono tok, iku ditutup soale juru kuncie wis muleh onok lawang samping sing bukaan oleh lewat kunu" (read: mas mbak pintu nya tidak disitu saja, itu ditutup karena juru kunci sudah pulang, ada pintu samping yang dibuka dan boleh lewat situ) seketika itu selepas abang bakso pergi kami tertawa bersama-sama, kog ga ada yang kasih tau dari tadi hingga sudah ada pose gulung saat pengambilan foto.
    Langitnya membentang haru membiru


    Di Candi ini pun kami tak jumpa dengan juru kunci nya sehingga kami tak dapat berbagi cerita sejarah candi hari itu saat kami berkunjung karena rasanya tak afdhol jika tak mendengar langsung dari pemangku atau juru kunci yang dipercaya merawat candi tersebut, yang kami tahu kala itu candi Gunung Gangsir juga berbatu bata merah salah satu peninggalan Candi Bata Merah yang masih kokoh berdiri, tak banyak yang dapat kami ceritakan karena cerita yang baik dan sumber yang pasti di kala kita bertemu dan asaing berdiskusi dengan juru kunci candi.
    Begitu menikmati suasana di Candi Gunung Gangsir dengan keramahan warga setempat, hingga kami sampai lupa waktu sudah mendekati Maghrib. tentunya kami memutuskan untuk segera beranjak balik ke Surabaya.
    Walaupun kami tak bertemu dengan juru kunci, tak mematahkan semangat kami untuk mengabadikan beberapa foto di candi Bangkal maupun Gunung Gangsir, dan kami pun sempat bercengkrama "mudah-mudahan bisa kesini dan ketemu juru kunci ya". big thanks to Mas Angger dan Jambrong yang tak lelah blusukan bersama kami.



    Jangan lupa guys, ketika liburan jagalah kebersihan dan lingkungan agar kelak anak cucu kita masih bisa menikmati alam yang indah ini.
    Salam 
    SiRanselPena.


    PETA LOKASI :