Mengenal sang Maestro di Museum Affandi Jogjakarta

, , 4 comments
Sebelumnya, mungkin nama Affandi bagi kami adalah sesuatu hal yang asing. Di benak kami Jogja identik dengan Prambanan yang megah, Malioboro yg tak pernah sepi penikmatnya, atau keraton yg syarat akan budaya nya. Museum Affandi pun menjadi sesuatu hal yang baru. Berbekal informasi dan sekelumit kisah teman yang pernah menginjakkan kaki di sana, kami pun memutuskan untuk singgah. Museum Affandi berada di jalan Laksda Adi Sucipto No 167 Yogyakarta, tepat di pinggir sungai Gajah Wong. Lokasi cukup strategis berada di pinggir jalan kota jogja menjadikan museum ini mudah di akses dari berbagai tempat.
PhotoGrid_1451747248449[1]
Jalan Menuju pada Studio Gajah Wong
PhotoGrid_1451747471872[1]
Lukisan Didit, Gunung Merapi pasca meletus
Soal navigasi kita mengandalkan applikasi Waze yang bisa kalian download pada smartphone, akurat untuk kami yang buta jalanan yogyakarta. Harga tiket masuk cukup terjangkau yaitu sebesar Rp.20.000,00 sudah free softdrink. uniknya atap dari bangunan museum ini berbentuk daun pisang hasil rancangan sang maestro sendiri. Di dalam museum affandi terdapat 4 galeri lukisan. Galeri 1 berisi karya-karya affandi dari mulai awal hingga akhir karirnya.
PhotoGrid_1451748324634[1]
Lukisan Embrio Cucu Pertama Affandi
Yang menarik pada galeri 1 ini adalah salah satu lukisan embrio cucu pertama affandi yang menggambarkan affandi sangat senang memiliki cucu pertama.
PhotoGrid_1451747773759[1]
Lukisan Sang Istri Maestro Affandi
Galeri 2 adalah lukisan affandi yang sudah terjual dan ada beberapa lukisan karya pelukis lain. Pada salah satu lukisan tampak affandi melukis istrinya yang telanjang memamerkan lekuk tubuh, karena pada saat itu keterbatasan affandi dalam menyewa model, sehingga istrinya yang menjadi objek dengan syarat tidak boleh menampakkan wajah nya (tampak bagian punggung)
PhotoGrid_1451747670406[1]
salah satu lukisan di Galeri 3
Pada Galeri 3, Selain menyuguhkan karya seni, juga terdapat dokumenter affandi semasa hidup, mulai perjalanan hidup, keluarga, sampai cara beliau melukis. Semua terekam jelas membuat kita lebih mengenal sosok sang maestro.
Galeri 4 menjadi galeri terakhir di museum affandi, dinamakan studio gajah wong. pada galeri ini menampilkan karya didit, cucu dari affandi. Pada galeri ini tampak salah satu lukisan karya didit yaitu merapi 10 hari sebelum meletus.
PhotoGrid_1451750731250[1]
Lukisan Didit, 10 Hari sebelum Gunung Merapi meletus

affandi memiliki 2 istri, yang mana istri ke2 masih hidup saat kali pertama kami berkunjung. Affandi meninggal pada tahun 1990 saat beliau berusia 83th, sedangkan istri pertama nya meninggal satu tahun setelahnya. Makam affandi dan istri terletak di antara galeri 1 dan 2 yang merupakan permintaan dari affandi yg ingin dikebumikan di samping karya nya. Affandi melukis tidak menggunakan kuas melainkan dengan tangan langsung, dan affandi melukis dengan melihat langsung objek nya, bila melukis diri sendiri maka affandi melihat ke cermin sambil melukis.PhotoGrid_1451747854610[1]
Puas mengitari museum, kami pun bersantai menikmati softdrink di cafetaria. Ada juga beragam pernik yang di jual disana diantaranya kartu pos lukisan affandi. Di atas foodcourt adalah rumah affandi, pengunjung diperbolehkan untuk naik, disana adalah kamar affandi beserta istri berkonsep seperti rumah pohon.
Selesai sudah kunjungan kami di museum affandi. Rasa haru dan bangga membumbung tinggi. Dengan berkunjung kesana kami bisa lebih mengenal lagi sosok maestro kebanggaan negeri. Terimakasih affandi.

4 komentar:

  1. Membaca tulisan ini membuat kita semaki bertambah wawasan wisata daerah. Great Kak !

    BalasHapus
  2. Kereeeeen. Jadi pingin ke sana xD
    Tulisan yang bagus dan informatif kak!

    BalasHapus
  3. Wah. Jd tahu ada nama pelukis namanya affandi. :)

    BalasHapus
  4. waktu ke jogja belum sempat main kesini nih..
    mungkin lainkali ke sana khususin buat hunting museum ahh..

    BalasHapus