Kisah 1001 Candi : Candi Kidal Sebaris Pesan yang Mengesankan

By SiRanselPena - 11:10 AM

 debur ombak  meniti asa seakan berteriak
dipersimpangan jalan , seakan sunggingan itu melambai
pada kesekian kalinya rasa lelah pada peluh kesah yang tak bermasalah
hingga terhenti pada tumpukan nadi
Candi Kidal
Kala itu perjalanan kami siranselpena harus terpisah, yup kami siranselpena berencana jalan asyik bareng dengan Sijambrong  alias Dek Beni , panggilan akrab kami ke bayi jumbo. keseruan ini dimulai salah satu dari siranselpena yang berangkat hanya satu orang, keseruan dimulai ketika tidak dapat parkir di stasiun Gubeng lama karena penuh selain itu naik kereta Surabaya Malang PP dengan fasilitas tanpa tempat duduk, bayangkan berapa jam kami menempuh dengan berdiri, tak apalah ini baru seru.

sekilas balik cerita kami saat berlibur ke Malang, saat itu kami tak ada rundown ataupun itinerary, yah saat itu semua serba serbi. kami berkunjung ke Malang hanya One Day trip. saat itu kami bertujuan ke salah satu Candi di Malang, yang kami tuju adalah Candi Kidal yang lokasinya  di desa Rejokidal, kecamatan Tumpang, kisaran jarak  20 km sebelah timur kota Malang.
Menuju Pelataran Candi Kidal

Keasrian Candi Kidal yang selalu dijaga oleh Pak Imam dan Bu Rumlah



Sejarah yang tak akan kunjung padam

Hijau semerbak daun adalah bukti rasa cinta dan memiliki beliau - beliau yang merawat candi

Hujan panas menyinari mu , kokoh dan perjuangan mu tak lekang oleh waktu
Cerita dimulai saat itu kami bertemu dengan 2 juru kunci  candi Kidal, yakni Bapak Imam dan Ibu Siti Romlah, kedua juru kunci ini sangat ramah serta penuh kesabaran dalam menjelaskan latar belakang serta sejarah dari Candi Kidal salah satu warisan dari Kerajaan Singasari . Pembangunan candi ini sebagai bentuk penghormatan atas jasa dari  Anusapati, Raja kedua dari Singasari, yang memerintah kerajaan singasari selama 20 tahun (1227 - 1248). Pada setiap ukiran candi memiliki cerita masing-masing yang terkait satu sama lain.
pengunjung bertamu pasti akan berjumpa dengan bu rumlah
ada yang tau patung diatas disebut apa?
saat itu pak imam bercerita jika orang dimasa dulu sangatlah cerdas, mereka meninggalkan sejarah-sejarah peninggalan yang bisa kita kenang dan ceritakan, seperti Candi ataupun peninggalan lainnya, pendirian candi pun bukan asal mendirikan,semua memiliki alasan dibalik pembangunan candi. Pak Imam berkata "berbeda dengan orang jaman sekarang, sejarah yang ditinggalkan berupa hutang dan masalah" seketika itupun saya dan mas benny tertawa bersama mendengarkan perkataan pak imam, dalam hati saya memang benar adanya banyak perbedaan orang jaman dahulu dan sekarang. nasibmu sekarang nak, jangan kau jejakkan yang jelek tapi berikan yang terbaik. Pak imam yang sangat menjunjung tinggi pesan-pesan moral yang tersembunyi dalam sejarah-sejarah candi.

Perempuan, adalah kata yang paling indah sepadan pada hasrat yang harus terjaga. 
perempuan ibarat mutiara yang bergemerlap dari dasar laut yang selalu dipuja dan dijunjung.

sepenggal kata diatas adalah gambaran pesan kesan dari pak imam kepada kami, perempuan harus dihormati dan dijunjung tinggi apalagi perjuangan seorang ibu harus kita harga, seketika pak imam langsung bercerita sedikit mengenai pengorbanan seorang anak untuk menyelamatkan ibunya, berdasar pada kisah di relief garuda di candi Kidal. ada 3 relief di candi kidal yang menggambarkan Garuda berada dibawah 3 ekor ular, selain itu garuda membawa kendi diatas kepalanya, dan terakhir garuda menggendong seorang wanita.pada relief terakhir inilah yang menceritakan perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya,demi cinta kasih Garuda kepada ibu nya  , ia rela melewati berbagai halangan dan rintangan. Legenda Garudeya (atau dikenal Garuda), sangat populer di kalangan masyarakat jawa, cerita yang membawa pesan moral dalam pembebasan ibunya dari perbudakan dengan memberikan penebusan air suci yang dikenal dengan amerta.
Relief Garudeya yang berada di bawah 3 ekor Ular

Relief Garudeya yang membawa air suci, sayang nya ada 1 relief yang sudah terkikis
setelah menceritakan kisah Garudeya, pak imam bertutur di belakang candi Kidal ini ada sumber air yang berasal dari serpihan pada beberapa candi kidal, konon sumber air ini dipercaya dapat membuat kita awet muda, atau menyembuhkan berbagai penyakit selain itu tutur pak imam yang paling khas dari sumber air mata ini sekering apapun cuacanya, dan sederas apapun aliran air hujan, sumber air mata yang tak memiliki nama ini selalu mengalir dengan aliran yang sama tak ada perubahan sedikitpun. Ada beberapa banyak batu-batuan candi yang hampir dicuri namun saat ini, batu-batuan tersebut sudah diamankan, diletakkan di suatu museum, tak luput pula pak imam berkata jangan heran jika ada peninggalan kita yang berada di Negeri Kincir Angin juga, karena pada jaman dulu kala penjajahan pun menjarah aset-aset cagar budaya kita. seketika itu pula kami penasaran dan kami diajak pak imam untuk melihat sumber air mata tsb, blusukan pun kami jejaki dengan tanah-tanah yang becek dikarenakan tanah telah diguyur hujan, pak imam pun berkata " udan wingi mas mbak, mboten nopo to? engko sampean-sampean rusuh kabeh klambine" (kemarin hujan mas mbak, apa tidak apa-apa? nanti baju kamu kotor semua), dengan semangat serentak pun kami menimpali pak imam "mboten nopo pak, sampun biasa rusuh-rusuhan ngene, wong kulo niki ngge sangking ndeso" (tidak apa-apa pak, kita sudah biasa kotor, kita juga dari desa". kami pun menyusuri dan ditemani anak laki-laki pak imam yang mengikuti, hamparan sawah yang luas dan suasana pedesaan pun kami susuri  dalam perjalanan ke sumber air mata tsb, sesampai di tempat kami pun takjub dengan apa yang sudah dituturkan pak imam memang benar apa adanya, aliran air mengalir  adanya . Kami pun mencoba mencuci kaki dan muka kami untuk mencoba kesegaran air yang mengalir.

bonus kami menuju sumber mata air belakang candi

Sejuk  saat melewati hutan-hutan bambu

Sumber mata air belakang candi Kidal


Langkah kami pun terhenti setelah berkunjung ke sumber air , kami mampir di pondok atau padepokan pak Imam, dengan kehangatan beliau menawarkan kami istirahat dan bercakap sejenak diiringi suguhan gorengan hangat dan sepiring pisang yang ranum. dari percakapan yang ada, pak imam sekeluarga ternyata memiliki kecintaan yang penuh akan budaya jawa. Sama halnya pak Imam pernah membantu penelitian sebuah buku yang bertajuk tentang "Ekspedisi Samapala (Menguak Kemasyhuran Majapahit dari Jendela Malang Raya)".

Pak Imam pun berkata " percaya atau tidak namanya peninggalan sejarah pasti berdampingan dengan alam yang tidak nyata, saya bisa berbicara seperti ini karena memang apa adanya pernah terjadi saat penelitian ekspedisi samapala ada yang sedang tidak suci melewati area terlarang alhasil mata perempuan tersebut bengkak sesampai kejadian tsb, saya hanya bisa menolong dengan sesembahan permohonan maaf lewat satu dupa di tempat tsb". inilah cerita hangat kami dengan pak imam. Amanat yang cukup banyak yang dapat kita ambil..

Pak Imam saat berbincang dengan salah satu ponakan belaiu

Foto Leluhur Pak Imam

Salam SiRanselpena

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar